Kamis, 20 Juni 2013

ARTIKEL Pembelajaran Seni Musik Melalui Kegiatan Bernyanyi Pada Anak di Sekolah Dasar



ARTIKEL
Pembelajaran Seni Musik Melalui Kegiatan Bernyanyi Pada Anak di Sekolah Dasar
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Seni Musik
Dosen Pengampu: Eka Titi Andaryani S.pd, M.pd

Disusun oleh :
ARIF TRI HANDOKO
1401411562
4E



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
PEMBELAJARAN SENI MUSIK MELALUI KEGIATAN BERNYANYI PADA ANAK DI SEKOLAH DASAR
ARIF TRI HANDOKO
(1401411562)

ABSTRAK
Dalam system pendidikan Indonesia saat ini pembelajaran pada sekolah sekolah- sekolah lebih menekankan pada pembentukan karakter siswa dan budi pekerti. Pembelajaran pelajaran saat ini harus searah dengan perkembanaan zaman dan arus globalisasi. Pendidikan seni, budaya dan keterampilan  diberikan di sekolah karena keunikan yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi atau berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni, belajar melalui seni, dan belajar tentang seni” .
Di era Globalisasi ini musik sudah menjadi bagian dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu kita harus memperkenalkan musik kepada anak melalui pendidikan seni musik.
Karena usia SD merupakan masa pembentukan jati diri pada anak, mereka perlu dibekali dengan budi pekerti agar nantinya tidak terjerumus ke hal- hal yang bersifat negatif. Oleh karena itu diperlukanlah suatu strategi atau cara untuk membentuk budi pekerti siswa yang lebih baik, yaitu melalui bernyanyi lagu lagu yang didalamnya mengandung nilai- nilai kehidupan yang patut di contoh oleh semua orang.

Kata Kunci: Pembelajaran, Globalisasi, Bakat, Budi pekerti

PENDAHULUAN
Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh yang meliputi aspek moral, akhlak, budi pekerti, perilaku, pengetahuan, kesehatan, keterampilan dan seni yang dikembangkan melalui pembelajaran dan pelatihan, maka pemerintah telah mengadakan perbaikan sistem pendidikan nasional dengan cara  menyempurnakan kurikulum. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang- Undang  Sistem Pendidikan Nasional (2003) bahwa pendidikan adalah usaha sadar dalam rangka menyiapkan peserta didik untuk meningkatkan mutu disemua jenjang pendidikan. Mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran untuk masa yang akan datang.
Selanjutnya dalam usaha pencapaian pendidikan nasional, tujuan pendidikan Sekolah Dasar menurut Prayitno (1995) mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur memiliki pengetahuan dan kemampuan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian mantap dan mandiri, melalui rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan pondasi bagi peserta didik dalam mengikuti pendidikan formal, wajib mengajarkan seluruh mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Termasuk mata pelajaran seni budaya dan keterampilan.
Pendidikan seni, budaya dan keterampilan  diberikan di sekolah karena keunikan yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi atau berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni, belajar melalui seni, dan belajar tentang seni” .
Saat ini musik sudah menjadi bagian dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu kita harus memperkenalkan musik kepada anak melalui pendidikan seni musik.
Sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai apabila seorang guru memahami prinsip-prinsip dasar musik dan dapat mengajarkannya sesuai dengan karakteristik anak Sekolah Dasar. Melalui pendidikan seni musik, sesuai yang diharapkan pula berinisiatif untuk turut berpartisipasi melestarikan dan mengembangkan atau menumbuhkan pembaharuan-pembaharuan untuk memajukan seni musik yang merupakan salah satu kebudayaan bangsa Indonesia. Namun melihat kenyataan di lapangan pelajaran musik hanya sebatas teori saja

PEMBAHASAN
Memberi pengajaran musik di sekolah haruslah disadari oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam musik, dan harus pula mengetahui alasan mengapa anak-anak harus mendapat pengajaran musik itu.
A.    Dasar-Dasar Teknik Bernyanyi (Jamalus, 1999:11)
1.   Perbedaan Bernyanyi dengan Berbicara
Bernyanyi adalah suatu bentuk kegiatan seni untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan manusia melalui suaranya. Suara itu adalah bunyi yang dihasilkan suara yang bergetar, yang terletak dalam kotak selaput suara, digetarkan oleh aliran udara pernafasan dari peru-paru. Suara yang digunakan manusia untuk berbicara sehari-hari. Aliran udara yang diperlukan untuk berbicara tidak memerlukan teknik pernafasan yang khusus. Akan tetapi bernyanyi memerlukan udara yang banyak dari jumlah udara untuk berbicara biasanya, karena suara yang dihasilkan harus penuh, pada umumnya lebih panjang serta dengan gema yang indah. Udara yang lebih banyak itu dapat menggetarkan selaput suara dengan teratur tetapi tetap hemat.
Untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bernyanyi diperlukan teknik bernyanyi yang melibatkan peranan bagian-bagian dalam dari badan , pusat, saraf, jaringan otot, paru-paru, selaput suara, ekspresi, wajah, sinar mata, semuanya bekerja dengan refleks. Badan merupakan alat musik bagi seorang penyanyi, sama halnya dengan alat musik seperti biola bagi orang pemain biola.oleh sebab itu seorang penyanyi haruslah selalu menjaga dan merawat alat musiknya ini agar tetap sehat dan kuat.
2.   Ungkapan atau Penafsiran Isi Lagu.
Ungkapan pikiran dan perasaan manusia melalui kegiatan bernyanyi menggunakan nada dan kata-kata. Kemampuan mengungkapkan dengan kata-kata tidak dapat dalam musik instrumental atau musik yang menggunakan insrumen saja. Melodi yang digunakan dalam bernyanyi termasuk cabang seni musik, sedangkan kata-katanya tergolong ke dalam seni sastra. Inilah keistimewaan bernyanyi. Jika kita bernyanyi satu lagu, haruslah diperhatikan dan diusahakan agar kedua cabang seni ini berjalan. Ungkapan pikiran dan perasan manusia itu banyak sekali macam ragamnya serta tingkatannya. Sebanyak macam  ragam pikiran dan perasaan yang dihayati oleh manusia, sebanyak itu pulalah kesanggupan nyanyian dapat diungkapkan isi pikiran dan perasaan dalam berbagai tingkat kejiwaan.
Seorang penyanyi hendaknya dapat menyelami maksud pikiran dan perasaan si pengarang lagu, sehingga dia dapat menghayatinya dalam ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Suatu nyanyian yang baik, yang diungkapkan dengan imbangan perasaan yang sempurna, akan menggugah perasaan pendengar, walaupun mendengar itu sendiri tidak dapat melahirkan ungkapan seperti itu melalui alat yang sama. Nyanyian yang dapat menggugah perasaan ini akan memuai pengalaman  yang pendalam. Jika demikian barulah dapat dikatakan bahwa suatu lagu telah dinyanyikan dengan penafsiran atau interprestasi yang baik.
Walaupun ungkapan pikiran dan perasaan manusia melalui lagu-lagu itu banyak sekali macam ragam serta tingkat kejiwaannya, agar lebih mudah dipahami, lagu-lagu wajib yang kita nyanyikan kita kelompokkan atas dua macam ungkapan sercara garis besar lebih dulu.
Kelompok tersebut terdiri  dari kelompok lagu-lagu perjuangajn yang harus dinyanyikan dengan ungkapan yang gagah dan bersemangat, dan kelompok lagu yang harus dinyanyikan dengan ungkapan yang tersambung halus.
Lagu- lagu perjuangan yang gagah dan bersemangat itu adalah lagu-lagu yang timbul di zaman perjuangan kemerdekaan Negara kita Republik Indonesia ini. Oleh sebab itu lagu-lagu ini haris dinyanyikan dengan gagah dan penuh semangat, sesuai dengan semangat yang menyala berkobar-kobar pada zaman perjuangan itu. Untuk mengungkapkan semangat menyala berkobar-kobar itu, lagu-lagu perjuangan ini pada umumnya haruslah dinyanyikan dengansuara yang tegas, bertekanan atau aksen pendek-pendek, dengan irama yang mantap seperti tentara berbaris dengan tegap dan gagah. Nyanyikanlah jagu-lagu bangun pemudi-pemuda, garuda pancasila, hari merdeka, Indonesia kita merdeka, merah putih, berkibarlah benderaku, dan lain sebagainya. Bahkan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan dan juga sebagai lagu perjuangan, dengan penuh semangat seperti yang dimaksud di atas.
Lagu-lagu yang tersambung halus seperti lagu yang berisi pujaan terhadap tanah air, tidak dapat dinyanyikan dengan suara yang bertekanan  dan serentak-serentakpendek. Kita harus menyanyikan lagu-lagu demikian seperti lagu Rayuan Pulau Kelapa, Bagimu Negeri, Himne Guru dan lagu jenis lainnya, dengan halus dan tersambung seperti keadaan alam, angin yang berembus itu selalu mulai dari tiupan yang kecil, bersatu dengan tiupan-tiupan yang lain jadi lebih banyak, lebih cepat menghimpun tiupan yang bertenaga kuat, yang kemudian buyar, sehingga tenaganya buyar sehingga tenaganya berkurang kembali, melemah, bahkan hilang demikian pula keadaan ombak di laut, selalu milai dengan riak yang kecil, berkumpul dengan riak-riak yang lain menjadi lebih besar, lebih cepat, bergelombang kuat dan sampai pecah di pantai dan buyar kembali. Peristiwa alam seperti ini selalu berulang-ulang. Demikianlah cara yang tepat kita gunakan secara umum dalam menyanyikan lagu jenis ini. Tiap kalimat atau frase lagu itu haruslah dimulai dengan halus, tanpa terasa meningkat menjadi lebih kera, menjadi tepat dan rapat di tengah frase, dan kembali mengecil di ujung frase. Penigkatan tenaga dan kecepatan serta penyusutan volume suara itu digambarkan dengan pola.
Kemudian untuk mendapatkan dinamik yany tepat, keseluruhan lagu itu harus di analisis benar-benar dimana harus lunak, dimana harus keras, dimana harus melakukan peningkatan atau pennyusutan baik mengenai ketepatan maupun volume suara dan sebagainya sehingga sesuai dengan isi lagu. Demikian dengan lagu-lagu legato yang lain seperti lagu-lagu cinta ataupun lagu-lagu sedihtidak dapat dinyanyikan dengan irama serta nada yang tegap dan mantap seperti menyanyikan lagu perjuangan yang semangat.
3.   Sikap Badan Waktu Bernyanyi
Sikap badan yang baik untuk benyanyi ialah sikap tentang cara duduk atau cara berdiri yang memberi keleluasan melakukan pernafasan dalam mempersiapkan udara yang diperlukan. Demikian pula sikap tentang pembentukan suara indah yang diinginkan sehingga dapat mengungkapkan isi lagu yang dinyanyikan dengan baik, yang akan terbayang pada air muka dan sinar mata penyanyi.
Kalau kita perhatikan kerangka badan manusia, maka terdapat tulang belakang yang menyangga badan tersebut dari pinggul sampai kepala. Tulang belakang ini terdiri atas empat bagian, yaitu bagian bawah yang tertanam di tulang pinggul, tulang pinggang, tulang punggung yang terikat ke tulang rusuk, dan tulang tengkuk atau tulang leher. Tulang belakang yang tertanam di tulang pinggul ini kedudukannya agak mantap. Kedudukan tulang punggung juga agak mantap karena diikat oleh tulang-tulang rusuk yang membentuk rongga dada.
Tulang pinggang tidak ada yang mengikatnya. Kadang-kadang orang tidak menyadari bahwa duduknya agak membungkuk ataupun miring. Sikap badan yang demikian tidak baik untuk bernyanyi, karena tidak mendukung peranan bagian-bagian dalam badan yang bekerja secara refleks. Tulang tengkuk atau tulang leher juga tidak ada yang mengikatnya, sikap ini pun tidak baik untuk bernyanyi. Sikap badan yang baik waktu bernyanyi adalah sebagai berikut:
a)      Duduklah di kursi atau bangku agak ke pinggir bagian depan dengan bobot badan tertumpu pada bagian bawah tulang pinggul yang dinamakan bonggol tulang duduk.
b)      Tarik dan regangkanlah tulang pinggang sehingga tegak lurus, dan otot perut agak dikencangkan sehingga tidak kendur.
c)      Dada agak dibusungkan sehingga tulang rusuk terangkat sehingga bebas berkembang, dan rongga dada akan bertambah besar.
d)     Tegakkan kepala, tetapi otot leher tetap rileks sehingga kepala dapat berputar dengan mudah.
Jika anda bernyanyi dengan berdiri tekanan gaya berat badan yang tadinya bertumpu pada bonggol tulang duduk akan berpindah ke kaki, sehingga gerakan badan akan lebih bebas. Cara berdiri yang baik ialah dengan agak memutar persendian tulang paha, lutut, dan pergelangan kaki kearah luar, sehingga kedudukan kaki membentuk sudut kira-kira 30 derajat dengan agak merenggangkan kedua tumit. Otot dibelakang paha harus dikencangkan, kemudian sikap badan sama dengan sikap untuk duduk tersebut diatas. Lakukanlah semuanya ini dengan wajar, tidak berlebihan, dan tidak kaku. Jika sikap badan itu telah benar, dapatlah kita melakukan pernapasan yang baik untuk bernyanyi.
Pernapasan dan pernapasan untuk berbicara memerlukan udara sewajarnya saja sehingga tidak memerlukan kerja yang khusus dari otot-otot pernapasan. Untuk bernyanyi kita memerlukan jumlah udara yang lebih banyak, sehingga untuk menghirup udara, menahannya sebentar, dan menghembuskannya kembali dengan tenaga yang rata, kita memerlukan kerja yang khusus dari otot-otot pernapasan. Oleh sebab itu seorang penyanyi haruslah dapat mengatur dan menguasai teknik pernapasan ini dengan baik. Dalam pernapasan ini terdapat kerja sama otot-otot badan, yaitu otot-otot gantung tulang rusuk, otot-otot perut dan otot sekat rongga badan yang dinamakan diafragma. Pernapasan yang baik digunakan untuk bernyanyi ini adalah pernapasan yang lebih banyak menggunakan otot diafragma ini.
Diafragma ialah sekat rongga badan yang memisahkan rongga badan dibagian atas badan dengan rongga perut dibagian bawahnya. Diafragma ini terdiri dari jalinan otot lebar mendatar yang kenyal dan kuat, dengan permukaan cembung keatas. Bila paru-paru bertambah besar waktu kita menghirup udara, maka untuk pertambahan ruang yang diperlukan, permukaan diafragma yang cembung itu bergerak kebawah hampir mendatar sehingga keliling diafragma bertambah lebar, dan bagian badan sekelilingnya pun bertambah lebar. Otot diafragma ini cukup kuat menahan tekanan, sehingga otot disekeliling paru-paru yang penuh udara tadi tidak tegang.
Waktu benyanyi otot diafragma ini dapat memberikan dorongan yang kuat pada paru-paru serta dapat mengatur tenaga aliran udara melalui batang tenggorokan menggetarkan selaput udara dan keluar melalui mulut. Suara yang keluar melalui mulut ini haruslah dibentuk sedemikian rupa sehingga enak didengar.
Pembentukan suara ini perlu diperhatikan dalam benyanyi. Bentuk suara yang keluar melalui mulut ini ditentukan oleh pengunan bagian-bagian dalam dari mulut mulai dari tenggorokan, belakang mulut, langit-lngit lunak, rahang bawah, lidah, serta bentuk mulut bagian depan dan bibir. Kalau orang menguap karena mengantuk, semua bagian dalam mulut tersebut diatas akan bekerja secara otomatis. Tenggorokan terbuka, belakang mulut lebar, langit-langit lunak terangkat keatas, rahang bawah turun, lidah terletak datar. Yang perlu diatur lagi ialah membulatkan bibir atas dan bawah yang yadinya terbuka. Dengan demikian kita telah menepatkan posisi mulut dan bagian-bagian dalamnya untuk pembentukan suara yang bulat penuh dalam bernyanyi. Cara lain untuk mendapatkan suara bulat penuh itu dapat pula dilakukan sebagai berikut:
a.       Ucapkan A dengan membuka mulut dan menurunkan rahang bawah. Bagian belakang mulut akan terbuka, dan bagian depan mulut pun terbuka pula.
b.      Bentuklah bibir atas dan bawah pada bagian depan mulut yang terbuka itu menjadi berbentuk bulat.
c.       Dengan bentuk mulut bagian depan dan bentuk bibir yang bulat ini, ucapkanlah A kembali. Dengan demikian bagian belakang mulut terbuka sehingga dapat mengeluarkan bunyi vokal A yang penuh dan bulat. Untuk bunyi vokal o,u,e,I dan bunyi vokal rangkap seperti oi,ai,dan sebagainya haruslah diusahakan agar tidak terlalu banyak mengubah bentuk mulut seperti pada waktu berbicara, karena dalam bernyanyi haruslah diusahakan mutu suara yang sama untuk bunyi-bunyi vokalnya. Yang perlu diingat ialah agar selama bernyanyi itu tenggorokan harus terbuka.
Suara yang terbentuk seperti di atas digunakan penyanyi untuk mengungkapkan isi lagu dengan nada dan kata-kata. Penyanyi harus benar-benar menyelami dan menghayati maksud serta lagu yang dinyanyikannya. Di atas telah dikemukakan bahwa lagu-lagu perjuangan kita harus dinyanyikan dengan gagah dan penuh semangat, sesuai dengan suasana pada zaman perjuangan dulu itu. Semangat yang berkobar-kobar ini akan terbayang pada wajah atau air muka penyanyi, dan akan terpancar pula dari sinar matanya. Demikian pula dalam menyanyikan lagu-lagu yang berisi ungkapan pikiran dan perasaan seperti riang gembira, lincah, cinta, sedih, dan sebagainya, akan terbayang pula pada air muka dan sinar matanya merupakan cermin dari ungkapan pikiran dan perasaannya.
4.   Cara Memproduksi Nada
Produksi nada alat-alat musik dapat dilakukan dengan berbagai macam cara sehingga menghasilkan warna suara yang berbeda-beda sesuai dengan keinginan yang membunyikannya. Mutu suara yang dihasilkan dalam bernyanyi tergantung kepada cara kita menggunakan teknik untuk pengucapan, resonansi, vibrato, kapaduan nada, ekspresi, dan interpretasi.
Suara manusia dapat digolongkan kedalam kelompok alat musik tiup. Peralatan produksi suaranya adalah tenggorokan (laring), yang ada kotak selaput suara didalamnya. Bunyi dari getaran selaput suara diperkeras oleh bagian belakang mulut (faring) sebagai pengeras atau resonator utama yang terdiri atas kerongkongan tengah, kerongkongan bawah, dan bagian atas yang berhubungan dengan rongga hidung.
Penyanyi haruslah dapat merasakan hasil kerja sama dari peralatan produksi suara ini, dan dapat menghasilkan mutu suara yang sesuai dengan ungkapan suasana hati yang dibayangkan oleh pikiran dan perasaannya.
Orang bernyanyi mengunakan nada dan kata-kata. Karena itu selain memperhatikan mutu suara, mengucapkan kata-katanya harus sesuai dengan pengucapan kata-kata dalam bahasa yang digunakan. Pengucapan kata-kata itu dihasilkan melalui gerak alat-alat pengucapan yaitu gigi, rahang, lidah, bibir dan langit-langit.
Alat-alat pengucapan ini ada yang terletak tetap pada tempatnya seperti rahang atas, langit-langit keras, dan gigi, tetapi ada pula yang dapat digerakkan, yaitu lidah, rahang bawah, langit-langit lunak dan bibir yang harus diatur waktu bernyanyi. Untuk mendapatkan bunyi vokal yang penuh dan bulat, ruang dalam mulut harus di besarkan dengan menurunkan rahang bawah sejauh-jauhnya, melektakkan lidah mendatar didalam mulut dan ujung lidah menyebuth belakang gigi bawah, mengangkat langit-langit lunak ke atas, kemudian membulatkan bentuk bibir atas dan bawah. Semuanya harus dilakukan dengan menghindarkan ketegangan pada alat-alat pengucapan.
Seorang penyanyi yang ingin menyanyikan sebuah lagu dengan baik harus lebih dahulu memahami lagu yang akan dinyanyikannya, dapat mengucapkan kata-katanya sesuai dengan ucapan dalam bahasa yang digunakan, tetapi dengan mutu suara yang sama untuk bunyi-bunyi vokalnya.
Resonansi ialah peristiwa diperkerasnya bunyi dari suatu sumber getaran melalui ikut bergetarnya suatu benda atau benda yang berongga, serta ikut bergetarnya udara didalam rongga itu. Alat musik seorang penyanyi terdiri dari selaput suara sebagai sumber bunyi, dalam badan dengan rongga dada, mulut, kerongkongan, semua rongga dalam kepala, sebagai pengeras suara atau resonator. Resonator yang baik digunakan, terutama untuk anak-anak adalah resonator bagian atas atau resonator kepala. Pada umumnya semua orang dapat bernyanyi. Suara yang belum baik dapat diperbaiki dengan mempelajari teknik bernyanyi, berusaha mencari resonansi yang tepat, berlatih dengan tekun, sampai dapat menghasilkan suara yang bermutu baik.
Mempelajari teknik bernyanyi antara lain adalah mempelajari cara mengatur penggunaan resonator dalam badan penyanyi. Resonator dalam badan itu dapat dikelompokkan atas tiga bagian, yaitu rongga dada sebagai resonator bawah, rongga mulut dan kerongkongan sebagai resonator tengah dan semua rongga di atas mulut dan kerongkongan didalam kepala sebagai resonator atas. Sesuai dengan kerja yang lebih banyak pada salah satu kelompok resonator ini maka suara yang dihasilkan akan menjadi tiga kelompok pula, yaitu suara register tengah, suara register dada.
Di atas rongga mulut yang dibatasi oleh langit-langit keras dan langit-langit lunak terdapat rongga hidung yang jauh lebih besar dari rongga hidung yang kelihatan. Dibelakang rongga-rongga hidung ini ada saluran yang menghubungkannya dengan kerongkongan, batang tenggorokan, dan mulut. Itulah sebabnya maka sikap badan kita waktu bernyanyi harus meluruskan tulang punggung sampai ke tulang tengkuk/leher supaya suara yang keluar dari selaput suara dapat diarahkan lurus keatas sehingga dapat mengetarkan udara yang berada didalam rongga-rongga hidung, dalam hal ini kita menggunakan suara dengan resonansi udara didalam rongga-rongga hidung yang mempunyai mutu dan warna suara yang indah harus diingat bahwa suara dengan resonansi rongga hidung ini tidak sama dengan suara hidung yang sengau, yang tidak baik digunakan untuk benyanyi. Di atas rongga-rongga hidung ini masih terdapat lagi beberapa rongga dalam kepala yang berisi udara dan dapat pula digetarkan. Dengan teknik benyanyi yang dipelajari, seorang penyanyi berusaha mengarahkan getartaran suaranya ke atas; mencoba, mencari, sampai rongga-rongga dalam kepalanya menjadi resonator yang baik sehingga suara yang dihasilkan indah, ringan, cemerlang, tertuju kedepan, berdengung dan bergema ke sekelilingnya. Cara bernyanyi yang baik ini hanya dapat dicapai dengan mencoba dan mencarinya terus melalui latihan. Kalau caranya sudah ditemukan maka berlatihlah terus dengan tekun, agar mutu suara yang dihasilkan dapat selalu ditingkatkan. Suara register kepala ini harus dipertahankan, karena bernyanyi yang baik banyak mengunakan suara register kepala.
Vibrato adalah istilah untuk nada beralun (alunan nada) yang dihasilkan dengan teknik memberikan perubahan berkala untuk intensitas, warna dan tinggi nadanya dalam bermain musik/bernyanyi. Perubahan tinggi nada pada vibrato pemain biola biasanya misalnya kira-kira seperempat nada. Vibrato pada penyanyi banyak vareasinya. Setelah anak-anak dapat menyanyikan nada-nada dengan tepat barulah dapat diberikan latihan bernyanyi dengan mengunakan teknik untuk suara bervibrato. Suara bernyanyi denga vibrato akan kedenganran lebih indah, lebih hangat, lebih lembut dan lebih veksibel atau lebih mudah berpadu. Perubahan tinggi nada rata-rata penyanyi untuk vibrato kira-kira setengah nada. Kecepatan alunan nadanya antara enam sampai delapan alunan dalam satu detik. Cobalah amati suara penyanyi-penyanyi yang sudah terkenal melalui rekaman, radio, televisi, ataupun pertunjukan langsung. Coba pulalah bernyanyi dengan mengunakan teknik untuk vibrato.
Bernyanyi bersama-sama dalam kelas merupakan kegiatan mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui nada dan kata-kata secara bersama. Agar nyanyian bersama dapat diungkapkan dengan baik, maka semua yang ikut bernyanyi didalam kelas harus menguasai syarat-syarat yang diperlukan untuk bernyanyi. Selain itu diperlukan pula penyeragaman teknik bernyanyi seperti sikap badan, pernafasan, pembentukan suara, pengucapan, resonansi, dan penggunaan vibrato. Tiap anak harus berusaha menyesuaikan dan menyamakan suaranya dengan suara teamn-temanya sehingga kita seolah-olah mendengar suara itu keluar dari satu mulut yang lebih besar. Kita tidak dapat lagi mengenal suara masing-masing anak karena suara mereka sudah berpadu menjadi satu. Kepaduan nada seperti inilah yang seyogianya dapat dicapai dari bernyanyi bersama di dalam kelas. Jika bernyanyi bersama di dalam kelas ini dilakukan oleh para remaja yang sudah mengalami perubahan suara yang berpadu seolah-olah keluar dari sebuah mulut dengan ukuran besar dari penyanyi itu. Demikian pula hendaknya jika kita mendengarkan sebuah komposisi paduan suara untuk dua suara orang besar, atau untuk tiga orang besar, ataupun empat orang besar, yang menyanyikan komposisi paduan suara itu dengan tingkat kepaduan nada yang tinggi.
Ekspresi dalam musik ialah ungkapan pikiran dan perasaan yang mencakup semua nuansa dari unsur-unsur pokok musik seperti nuansa warna nada, tempo, dinamik, dan cara memproduksi nada dalam pengelompokana frase yang diwujudkan oleh seniman musik atau penyanyi, yang disampaikan kepada pendengarnya. Komponis atau pengarang lagu biasanya menuliskan tanda-tanda ekspresi seperti tempo, dinamik, frase, dan istilah-istilah ekspresi seperti gembira, sedih, lincah, agung, dan sebagainya, pada komposisinya. Seniman atau penyanyi berusaha mengungkapkan komposisi itu dengan mengikuti tanda-tanda ekspresi nyang dimaksud oleh komponisnya.
Interpretasi dalam musik ialah hasil penafsiran seorang seniman atau penyanyi tentang sebuah komposisi musik atau lagu yang dibuat oleh seorang komponis. Dengan mengikuti petunjuk yang berupa tanda-tanda ekspresi dari komponisnya, seorang seniman atau penyanyi dapat mengungkapkan sebuah lagu dnegan ekspresi yang sangat baik sekali, tetapi mungkin saja interpretasi yang diberikannya belum sesuai dengan isi dan jiwa lagu yang disajikannya. Untuk memperoleh interpretasi yang lebih mendekati apa yang dimaksud oleh komponisnya, seorang seniman atau penyanyi haruslah mempelajari latar belakang dari lagu yang disajikannya seperti isi dan maksud lagu, waktu pembuatan lagu, keadaan dan suasana waktu lagu itu lahir, dan bagaimana pula watak dan pribadi pengarang lagu itu. Akan tetapi perlu disadari, bahwa betapapun tingginya kemampuan seorang  penyanyi, tidaklah mungkin ia dapat menafsirkan sebuah lagu betul-betul sama dengan ekspresi yang dimaksudkan oleh komponisnya, karena penafsirannya akan merupakan ungkapan gabungan dari komponis dan ia sendiri. Demikian pula halnya jika komposisi yang sama dinyanyikan oleh penyanyi lain, ungkapan penyanyi ini tidak mungkin sama betul dengan ungkapan penyanyi pertama, karena pribadinya yang berbeda satu sama yang lainnya.
B.     Proses Latihan Benyanyi
Dalam latihan bernyanyi anak-anak terlebih dahulu diposisikan dalam keadaan siap. Agar mereka dapat bernyanyi dengan baik, yaitu bagaimana sikap duduk, cara bernafas dan mengambil nada. Baru dimulai menyanyikan lagu baris-perbaris.
v   Setelah anak mantap menyanyi pada baris pertama baru dilanjutkan pada baris kedua,
v   Setelah anak mantap menyanyi pada baris kedua baru dilanjutkan pada baris ketiga,
v   Setelah anak mantap menyanyi pada baris ketiga baru dilanjutkan pada baris keempat
v   Setelah anak mantap menyanyi pada baris keempat baru dilanjutkan pada baris kelima,
v   Setelah anak mantap menyanyi pada baris kelima baru dilanjutkan pada baris keenam,
v   Setelah anak mantap menyanyi pada baris keenam baru dilanjutkan pada baris ketujuh,
v   Setelah anak mantap menyanyi pada baris ketujuh baru dilanjutkan pada baris kedelapan,
v   Setelah anak mantap menyanyi pada baris kedelapan baru dilanjutkan pada baris kesembilan,
v   Setelah anak mantap menyanyi pada baris kesembilan baru dilanjutkan pada baris kesepuluh,
v   Setelah anak mantap menyanyi pada baris kesepuluh baru dilanjutkan pada baris kesebelas,
v   Setelah selesai semua baris lagu, baru lagu dinyanyikan secara utuh

PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas maka penulis dapat menyimpulkan  bahwa pembelajaran seni musik merupakan salah satu pelajaran yang harus diajarkan dan diikuti oleh siswa. Selain itu dengan kegiatan barnyanyi dapat meningkatkan kreativitas siswa di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran seni musik melalui kegiatan bernyanyi pada anak di sekolah dasar meliputi 2 kegiatan yang perama adalah dasar dasar kegiatan bernyanyidan kedua proses latihan bernyanyi. Dalam kegiatan pertama meliputi (a)perbedaan bernyanyi dan berbicara, (b) ungkapan atau penafsiran isi lagu (c) Sikap badan waktu bernyanyi dan (d) cara memproduksi nada.
SARAN
1.      Pembelajaran musik diberi melalui pengalaman musik hendaknya dilaksanakan pada kelas khusus dan dilengkapi sarana yang menunjang pembelajaran musik tersebut.
2.      Ibarat gading yang tak retak, penulis menyadari bahwa dalam penulisan tugas akhir ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu dengan senang hati penulis mengharapkan adanya kritikan dan saran-saran yang bersifat menunjang.   

DAFTAR PUSTAKA 
  
Ahdian Karta Miharja. 2013. Pendidikan Seni Tentang Wawasan Seni(online) http//anakciremai.blogspot.com/20013/06/wawasanseni.Html.diakses tanggal. 5 Juni 2013
http//:desyandri’s weblog.blogspot.com/2013/05/.diakses tanggal.23 mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar